Auto Performance: TUHAN, SENI & KAMU


Oleh: John Heryanto

ITU

Pada suatu hari tepatnya tahun 2009, seorang anak yang baru lulus SMA ditanya oleh bapaknya yang sedang sakit, bapak itu berbaring diranjang “nak, kamu akan jadi apa?” anak yang jarang pulang ke rumah—yang hari-harinya dihabiskan dengan jualan roko di jalan—tiba-tiba diluar kesadarannya dengan spontan menjawab  “seniman pak” meski ia tidak tahu apa itu seniman, bagaimana seniman bekerja. Esoknya bapaknya meninggal. Dan ketika anak itu telah kuliah di sekolah seni, lalu ibunya meninggal dan anak itu hanya punya satu kakaknya sebagai pedagang krupuk dan satu adiknya penggemar musik metal dan baru lulus SMA. 

ANGKA 5

Anak itu lahir pada tanggal 5 Mei sama tanggalnya dengan ibunya yang lahir pada tanggal 5 Mei 1965. Ibu dan bapaknya tinggal di rumah nomor 15. Ibunya sakit karena pembuluh darah di kepalanya pecah dan dirawat selama 5 hari di ruang mawar no 5 RSUD Ciamis. 5 tahun setelah Ayahnya meninggal pada usia 55 tahun dan 35 hari setelah meninggal neneknya yang sebelumnya sakit lumpuh selama 5 tahun dan dirawat di rumah oleh ibunya.  Anak itu kini kuliah semester 5 Jurusan Teater tapi belum menemukan apa itu seni.

Apa seni bagi anak itu, adalah sesuatu yang gelap. Lebih dari layar hitam yang membentang tanpa ujung seperti pula ayahnya yang langsung menghadap tuhan setelah mendengar bahwa anaknya mau jadi seniman.

TUHAN, SENI & KAMU

Terispirasi dari naskah Waiting For Godot karya Samuel Beckett yang ditulis pada tahun 1952, tentang perjalanan hidup dua orang sahabat yaitu Didi (Vladimir) dan Gogo (Esteragon) yang menghabiskan hari-harinya di bawah pohon untuk menunggu kedatangan Godot yang tak pernah datang.

Tuhan, seni dan kamu adalah sebuah upaya pencarian seni dalam daging, kata-kata dan tubuh yang telah menjadi bahasa di luar dirinya. sebuah upaya untuk menelusuri seni dalam sebuah penantian yang entah.

Satu-satunya yang anak kecil yakini ialah pikirannya sendiri. Tapi apakah pikiranya itu adalah miliknya ketika kepalanya telah dicuci dengan buku-buku di perpustakaan dan sekolahan? Termasuk tubuhnya sendiri telah teracuni dengan bahasa tubuh yang lain diluar dirinya. Lantas daging tubuhnya hanyalah benda semata. 

Maka perlulah sebuah penelurusan ulang untuk menemukan kemurnian seni yang seutuhnya bagi dirinya.  Apakah anak kecil itu akan pula seperti ayahnya yang mengahadap tuhan ketika mendengar kata seni, atau ia hanya akan menghabiskan hidupnya dalam sebuah penantian yang entah.

selamat ulang tahun Stanislavski, “My life in art”.

5 Januari 2015

John Heryanto
(anak kecil yang buta)

Komentar