AKU DAN IBU

oleh: John Heryanto

"tak usah kau ragu lepaskan aku dari dekapanmu sebab aku tak lagi butuh air susu apa lagi peluk dan ciummu" ucap ku pada ibu berkali-kali, tapi ibu tak mengerti ia hanya tahu bahwa kini bayinya telah lahir dengan selamat dan sekarang telah menjerit menagih susu. lalu dipeluknya aku erat-erat dan ditatapnya dalam-dalam dengan mata yang berkaca serupa es balok yang perlahan meleleh membasahi pipinya yang lesung.



"ia pasti benci dan menyesal karena telah melahirkan anak laki-laki yang kelak bila besar nanti pasti akan seperti ayahnya yang selalu menyiksa dan memperlakukan istri selayaknya babu" bisiku dalam hati. bahkan bisikan itu semakin kuat saja ketika ibu terus saja menangis menatapku, seolah-olah ia memohon ijin agar aku rela santapnya sebagai hidangan malam. Mungkin di mata ibu aku serupa udang rebus yang enak bila dihidangkan dengan caos dan lalab di atas piring.



aku masih ingat bagaimana aku dilahirkan saat hujan malam hari di sebuah rumah yang kecil ukuran 3x6 dengan genting yang bocor, dan rumah itu terletak di pinggiran kota dan di ujung gang yang sempit serta pengap, dekat sungai yang kotor dan bau limbah pabrik pula.

sementara di luar jendela hujan semakin deras saja, bahkan batang-batang hujan itu telas menyusup ke dalam rumah dengan bebas lewat genting-genting yang bocor dan perlahan butir-butir hujan itu menusuk ke dalam sumsum tulang punggung ibu hingga ibu pun meronta dan menjerit sejadi-jadinya. begitu juga aku yang di dalam perut telah meronta dan menendang kelamin ibu keras-kerasnya. tapi ibu,terus saja meronta sekuat tenaga dengan nafas yang ter engah - engah dan jari-jarinya mencengkram kasur kuat-kuat seperti menahan sakit yang teramat dan mungkin seperti itulah sakitnya ibu saat diperkosa ayah ketika perawan.

kini aku pun telah lahir tanpa bidan dan paraji,telah dua jam pula mengenal rumah ibu. rumah yang kini lantainya becek sebab hujan dan tak ada perabot apa pun kecuali kasur butut,kompor serta gelas dan piring lima biji.



ibuku masih saja menangis menatapku, tapi aku pun tak mau kalah dengan tangisan ibu, maka aku pun menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Mendengar tangisanku tiba-tiba saja ibu menbuka kancing dasternya dan memaksaku untuk menghisapa puting ibu. tapi aku tak mau, sebab itu bukanlah kebiasaan ku tapi itu kebiasaan ayah yang selalu menindih dan menghisap puting ibu sambil memaki-maki sepulang judi atau mabuk-mabukan bahkan sehabis kencan dengan pelacur lalu sisanya dilampiaskan pada ibu.



diam-diam sambil memeluku ibu menulis surat untuk ayah katanya:



"aku muak,anjing! kita sama tahu-tahu bahwa kita memang bajingan dan kau lebih dari itu, selamat tinggal bangsat! bajingan, tai!

seperi itulah kiranya yang sempat aku baca di surat ibu kepada ayah.

kini aku pun tahu bahwa ayah memang bajingan dan lebih bajingan dari pada ibu yang selalu di bilang jalang sama ayah. dan mereka telah sama-sama muak dan saling membenci dan mungkin karena rasa benci itu pula yang menyebabkan ibu dan ayah bersama hingga lahirlah aku.

setelah menulis surat itu tiba-tiba saja ibu mengajaku ke jendela dan di tatapnya air sungai yang deras dan keruh dan dengan tiba-tiba pula ibuku melompat dan terjun kedalam sungai bersamaku. kini ikan-ikan di dalam sungai benar-benar terkejut dan tidak tahu siapa diri kami yang sebenarnya bahkan ibu dan aku pun tak tahu dan rumah itu, rumah ibuku yang kini telah kosong dan mungkin sebentar lagi ayah akan pulang tapi kau tidak pulang-pulang?

kami pun kini tak lagi tahu kemana kami akan hanyut namun yang jelas dada kami sudah pengap penuh dengan air dan mata kami telah mulai gelap...

Komentar